![]() |
| Tim 3 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) | Foto : UNDIP |
PALI, HPC – Tim 3 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) terus bergerak cepat menyerap aspirasi masyarakat di kawasan transmigrasi Kabupaten PALI, Sumatera Selatan. Melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan, tim menemukan berbagai persoalan yang dihadapi petani transmigran, terutama yang menggantungkan hidup dari karet dan sawit.
Mayoritas warga mengeluhkan mahalnya harga pupuk serta distribusi pupuk subsidi yang tidak tepat sasaran. Selain itu, harga karet yang tidak stabil dan serangan hama pada tanaman karet juga menjadi masalah serius karena hingga kini belum ditemukan obat penyakitnya.
Petani transmigran di Desa Karang Tanding dan sekitarnya menjadi pihak paling terdampak. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk subsidi dan terpaksa membeli pupuk non-subsidi dengan harga tinggi.
Permasalahan dialami di kawasan transmigrasi Kabupaten PALI, khususnya wilayah Petata, yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani karet dan sawit.
Observasi dan wawancara dilakukan selama kegiatan Ekspedisi Patriot UNDIP 2025 yang saat ini sedang berlangsung di Kabupaten PALI.
Karena kesejahteraan petani sangat bergantung pada hasil karet dan sawit. Distribusi pupuk yang tidak merata, harga karet yang fluktuatif, serta ketergantungan pada tengkulak membuat petani kesulitan memperoleh penghasilan yang layak.
Sejalan dengan fokus risetnya, Tim 3 UNDIP mengkaji Desain Model Kolaborasi Kelembagaan Ekonomi di kawasan transmigrasi. Harapannya, kelembagaan seperti BUMDes, Koperasi Unit Desa (KUD), maupun Koperasi Merah Putih dapat memperkuat posisi tawar petani dan memutus ketergantungan pada tengkulak.
Azhes, Koordinator Lapangan Tim 3, menegaskan komitmen tim dalam merancang solusi.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam pelaksanaan riset ini. Harapan kami, hasil riset dapat melahirkan model kelembagaan ekonomi yang kuat, sehingga petani bisa lebih sejahtera dan memperoleh harga yang pantas,” ujarnya.

