![]() |
| Ayek Paye Ako Seribu yang berlokasi di tengah perkebunan karet Desa Purun, Kecamatan Penukal | Foto : hitspali.com |
PALI,HPC – Pemandian Air Paye Ako Seribu kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata alam baru yang menarik perhatian masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, objek wisata ini diperkirakan dikunjungi kurang lebih sekitar seribu wisatawan.
Ayek Paye Ako Seribu yang berlokasi di tengah perkebunan karet Desa Purun, Kecamatan Penukal, mulai dikelola secara mandiri oleh warga setempat sejak 2019. Pengelolaan ini berangkat dari kepedulian warga terhadap kenyamanan dan keamanan pengunjung yang datang menikmati keindahan alam tersebut.
Nur (60), salah seorang warga Desa Purun, menuturkan bahwa awalnya sungai tersebut hanya dimanfaatkan warga sekitar untuk mandi dan beraktivitas sehari-hari. Namun, pernah terjadi kasus kehilangan sepeda motor yang kemudian memicu kesadaran warga untuk menata kawasan wisata secara swadaya.
“Dulu sering dipakai mandi warga. Pernah ada kejadian motor hilang, dari situlah kami sepakat mengelola parkiran supaya pengunjung merasa aman,” ujar Nur, Jumat (2/1/2026).
Dalam bahasa Indonesia, “Ako” berarti akar. Nama Ako Seribu sendiri merujuk pada banyaknya akar pepohonan yang terlihat di sepanjang aliran sungai. Akar-akar tersebut menjadi ciri khas sekaligus menambah keunikan dan keindahan alami kawasan pemandian.
Pemandian Air Paye Ako Seribu menawarkan aliran sungai yang jernih, dikelilingi pepohonan rindang serta lumut hijau yang menyejukkan mata. Suasana alami ini menjadikannya tempat favorit bagi pengunjung untuk berenang, bersantai, hingga berfoto bersama keluarga maupun teman.
Pengunjung yang datang hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp5.000 untuk motor dan Mobil Rp.20.000. Setelah berenang, pengunjung juga dapat bersantai sambil menikmati bekal makanan di sekitar aliran sungai.
Sementara itu, Fitri, salah seorang pengunjung Paye Ako Seribu, berharap adanya kepedulian dari pemerintah desa maupun dinas terkait terhadap pengembangan wisata berbasis masyarakat tersebut. Menurutnya, akses menuju lokasi wisata masih menjadi kendala, terutama saat musim hujan.
“Kita agak kesulitan ketika memasuki kawasan wisata Paye Ako Seribu, apalagi di musim hujan ini. Pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua merasa kesulitan saat memasuki kawasan,” ujar Fitri.
Ia menilai, dengan adanya perbaikan akses jalan serta dukungan pemerintah, Pemandian Air Paye Ako Seribu memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten PALI sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.
Dengan keindahan alam yang masih terjaga dan pengelolaan berbasis masyarakat, Ayek Paye Ako Seribu kini menjadi rekomendasi wisata alam yang patut dikunjungi saat berada di Kabupaten PALI.

