
Setiap tanggal 12 Mei, berbagai elemen masyarakat rutin menggelar doa bersama, tabur bunga | Foto : Wikipedia
HITS PALI - Peristiwa Tragedi Trisakti yang terjadi pada 12 Mei 1998 kembali dikenang sebagai salah satu momen paling kelam dalam sejarah reformasi Indonesia. Insiden tersebut berlangsung di kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, ketika ribuan mahasiswa menggelar aksi damai menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto di tengah krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia saat itu.
Berdasarkan berbagai catatan sejarah dan laporan lembaga hak asasi manusia, aksi demonstrasi awalnya berlangsung tertib. Namun situasi berubah ricuh ketika aparat keamanan melakukan tindakan represif terhadap massa mahasiswa yang sedang bertahan di sekitar kampus. Dalam insiden tersebut, empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur akibat tembakan peluru tajam.
Keempat mahasiswa yang meninggal dunia yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Selain itu, puluhan mahasiswa dan masyarakat dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan dan penembakan.
Tragedi tersebut memicu gelombang kemarahan publik yang kemudian berkembang menjadi kerusuhan besar di sejumlah wilayah Indonesia pada Mei 1998. Situasi politik nasional semakin memanas hingga akhirnya Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998 setelah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.
Peristiwa Trisakti kemudian dikenang sebagai simbol perjuangan mahasiswa dalam menuntut demokrasi, kebebasan berpendapat, serta perubahan sistem pemerintahan menuju era reformasi. Hingga kini, keluarga korban, aktivis HAM, dan masyarakat sipil masih terus menyerukan penuntasan kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada masa reformasi 1998.
Setiap tanggal 12 Mei, berbagai elemen masyarakat rutin menggelar doa bersama, tabur bunga, hingga aksi refleksi untuk mengenang jasa para mahasiswa yang gugur dalam perjuangan reformasi. Tragedi Trisakti bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pengingat penting agar peristiwa serupa tidak kembali terulang di Indonesia.

