Iklan

Latest Post

Redaksi HITS PALI
Minggu, September 28, 2025, 07:47 WIB
Last Updated 2025-09-28T00:49:37Z
DaerahTrending

Petani PALI Mulai Alihkan Lahan Karet ke Sawit Akibat Serangan Jamur dan Virus

Kelompok 1 dan Kelompok 2 seusai melakukan wawancara dengan Bapak Giatno, salah satu warga transmigran di Desa Tanding Marga (24/9/2025). | Foto : UNDIP

PALI, HP–  Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, berkesempatan turun langsung ke desa-desa kawasan transmigrasi PETATA. Melalui wawancara komunikatif, tim memperoleh informasi menarik dari warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani karet.


Lahan perkebunan di Kabupaten PALI memang didominasi oleh tanaman karet. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten PALI dalam PALI dalam Angka Volume 12, 2025 mencatat luas perkebunan karet mencapai 70.262 hektare pada tahun 2024. Angka ini lebih besar dibandingkan luasan perkebunan kelapa sawit.


Hasil wawancara dengan warga menunjukkan bahwa usaha pertanian karet sudah digeluti selama bertahun-tahun, bahkan sebagian menjadi usaha turun-temurun keluarga. Namun, belakangan muncul fenomena baru: banyak petani mulai membuka sebagian lahan karet untuk ditanami kelapa sawit.



“Karet di sini banyak yang terkena jamur akar putih, itu bisa membuat pohonnya mati. Bagian akar juga terserang virus yang menyebabkan gugur daun, meskipun musim hujan daunnya tetap berguguran. Kami mendapat informasi dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) bahwa virus ini sudah menyebar ke Australia dan Malaysia. Itulah alasan kenapa petani karet di sini berpindah ke kelapa sawit,” ujar Pak Efsandi, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Gunung Raja sekaligus petani karet.


Hal senada disampaikan Giatno, warga transmigrasi Desa Tanding Marga.
“Pohon karet pada kena virus, Mbak. Daunnya gugur, produksi getahnya juga menurun drastis. Hasilnya tidak bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan,” keluhnya.


Sementara itu, sebagian petani mengaku beralih ke sawit bukan karena faktor penyakit, melainkan sekadar mengikuti tren.


“Coba ikut-ikutan, Mbak,” kata seorang warga.


“Katanya lebih untung sawit, Mas,” tambah lainnya.


Meski demikian, pembukaan lahan karet menjadi perkebunan sawit masih tergolong baru. Sebagian besar petani yang diwawancarai belum memasuki masa panen, sehingga hasil dan keuntungan nyata dari tanaman sawit belum dapat dibuktikan.

Terkini