Iklan

Latest Post

Redaksi HITS PALI
Senin, Juni 15, 2026, 08:59 WIB
Last Updated 2026-06-15T01:59:09Z
KesehatanTrending

Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN Diperingati Setiap 15 Juni, Tingkatkan Kesadaran dan Kerja Sama Regional


HPC - Setiap tanggal 15 Juni, negara-negara di kawasan Asia Tenggara memperingati Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN atau ASEAN Dengue Day (ADD). Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) sekaligus memperkuat kerja sama antarnegara ASEAN dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tersebut.


ASEAN Dengue Day pertama kali ditetapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19 yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, pada 30 Oktober 2010. Indonesia kemudian menjadi negara pelopor pelaksanaan peringatan pertama yang digelar pada 15 Juni 2011. Dalam momentum tersebut, negara-negara ASEAN juga memperkuat komitmen bersama melalui Deklarasi Jakarta Melawan Demam Berdarah untuk menghadapi ancaman dengue secara regional.


Peringatan ini lahir karena dengue masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar di kawasan Asia Pasifik. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat bahwa kawasan Asia Pasifik menanggung sebagian besar beban kasus dengue global. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini dapat menyebabkan demam tinggi, perdarahan, hingga komplikasi serius yang berujung kematian apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.


Menurut WHO, sekitar 5,6 miliar penduduk dunia kini berada dalam risiko terpapar dengue, dengan perkiraan 100 hingga 400 juta infeksi terjadi setiap tahun. Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk negara-negara ASEAN yang memiliki iklim mendukung perkembangan nyamuk pembawa virus dengue.


Melalui ASEAN Dengue Day, pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, hingga masyarakat diajak untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin.


Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa pemberantasan DBD tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari perkembangbiakan nyamuk. Dengan kesadaran dan partisipasi bersama, diharapkan angka kasus serta kematian akibat DBD di kawasan ASEAN dapat terus ditekan.(***)

Terkini