Imbauan tersebut disampaikan Asgianto saat menghadiri kegiatan Bekarang di Desa Mangkunegara, Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI, beberapa hari lalu.
Asgianto mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di tengah kondisi cuaca yang masih minim hujan.
"Masyarakat kami imbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Bagi yang merokok, pastikan rokoknya benar-benar mati sebelum dibuang," kata Asgianto.
Imbauan tersebut menjadi penting mengingat kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini mulai memburuk akibat dampak karhutla.
Dilansir Kompas.com, kualitas udara di lima daerah di Sumsel masuk kategori tidak sehat. Kelima daerah tersebut yakni PALI, Musi Rawas, Palembang, Lahat, dan Prabumulih.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Rabu (12/8/2026), PALI mencatat angka tertinggi dengan nilai 168. Disusul Musi Rawas 131, Palembang 115, Lahat 110, dan Prabumulih 108.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara di lima daerah itu telah berada dalam kategori tidak sehat.
Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Rezawahya, mengatakan penurunan kualitas udara mulai meluas seiring meningkatnya sebaran karhutla.
"Saat ini, kondisi penurunan kualitas udara bukan hanya terjadi di OKI atau Palembang, tetapi merata di daerah lain," kata Rezawahya, Rabu (12/8/2026).
Menurut Rezawahya, peningkatan titik panas yang terjadi setiap hari, minimnya hujan dalam beberapa pekan terakhir, serta kebakaran di lahan gambut dan mineral berpotensi membuat kualitas udara semakin menurun.
Ia mengatakan kondisi karhutla tahun ini berbeda dengan 2023. Saat itu, kabut asap lebih banyak terpusat di Palembang karena asap terbawa angin dari wilayah OKI.
"Kalau di 2023 kebanyakan asap terbawa angin dari OKI, kalau tahun ini tidak terpusat, tapi (sebaran) merata," ujarnya.
Rezawahya menjelaskan, kabut asap biasanya lebih pekat pada pagi hari. Kondisi tersebut mulai berkurang ketika pergerakan angin meningkat menjelang siang.
"Biasanya memasuki pukul 08.00-10.00 WIB angin mulai bergerak sehingga ada pengurangan kepekatan kabut asap," katanya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau ikut berperan mencegah terjadinya karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta memastikan sumber api, termasuk puntung rokok, benar-benar padam.

