Iklan

Latest Post

Rabu, September 09, 2026, 14:42 WIB
Last Updated 2026-09-09T07:42:29Z
DisperindagTalang UbiTrending

Pelatihan Batik PALI Dorong Penggunaan Pewarna Alami, Target Tembus Pasar Global

Pelatihan berlangsung selama delapan hari, mulai 28 Agustus hingga 4 September 2026.  | Foto : hitspali.com


PALI, HPC - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, menggelar pelatihan pewarnaan alam batik berbahan lokal. Kegiatan ini diikuti sejumlah pengrajin batik dari wilayah PALI.


Pelatihan berlangsung selama delapan hari, mulai 28 Agustus hingga 4 September 2026. Selain meningkatkan keterampilan, pelatihan tersebut ditujukan untuk mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang selama ini digunakan para pengrajin.


Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku industri batik mengenai pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai bahan pewarna alami kain batik.


Usai menutup kegiatan, Asisten III Pemerintah Kabupaten PALI, Hariono, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas produksi para pengrajin.


"Harapannya ke depan mampu bersaing di pasar global," kata Hariono.


Menurut dia, batik yang menggunakan pewarna alami juga berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan batik dengan pewarna sintetis.


Hariono berharap pelatihan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan. Para peserta juga diminta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pelatihan.


"Kegiatan ini agar berkelanjutan dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Bagi peserta yang telah dilatih agar dapat mengimplementasikan pengetahuan dan ilmu yang didapat," ujarnya.


Dia menambahkan, pelatihan tersebut menghadirkan instruktur yang memiliki keahlian di bidang pewarnaan alam batik.


Sementara itu, instruktur pelatihan Zahir Widadi menjelaskan pewarnaan alami memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pewarna sintetis.


Menurutnya, warna yang dihasilkan cenderung lebih natural, kalem, sejuk, unik, dan memiliki karakter tersendiri.


"Bahan baku pewarna juga bisa ditanam di sekitar lingkungan," jelas Zahir.


Selain itu, limbah dari proses pewarnaan alami dinilai lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam dan relatif mudah terurai.


Zahir juga menilai PALI memiliki potensi bahan lokal yang dapat dikembangkan menjadi ciri khas batik daerah.


"Kabupaten PALI ini memiliki beragam bahan yang bisa dikembangkan. Ini yang tidak pernah saya temukan di kota atau kabupaten tempat lain," katanya.


Dia menyebut pengembangan batik PALI dapat diarahkan pada perpaduan ragam hias dan warna sehingga menghasilkan motif yang unik dan memiliki identitas tersendiri.


"Kalau dalam teori yang kami buat, batik terdiri dari ragam hias, warna, dan unik," pungkasnya.(*)

Terkini