![]() |
| Tugu Khatulistiwa | Foto : net |
Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, memperingati hari jadinya yang ke-255 pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kota yang dikenal sebagai Kota Khatulistiwa ini memiliki sejarah panjang yang berawal dari pembukaan permukiman oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771.
Berdasarkan catatan sejarah Pemerintah Kota Pontianak, pendirian kota ini bermula ketika rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga sungai, yakni Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas. Di kawasan tersebut, mereka mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal yang kemudian menjadi cikal bakal Kota Pontianak.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah berdirinya Pontianak, yang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan di wilayah Kalimantan Barat.
Syarif Abdurrahman Alkadrie dan Berdirinya Kesultanan Pontianak
Syarif Abdurrahman Alkadrie tidak hanya dikenal sebagai pendiri Kota Pontianak, tetapi juga sebagai Sultan pertama Kesultanan Pontianak.
Mengutip catatan Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pada 8 Sya'ban 1192 Hijriah. Kesultanan yang didirikannya kemudian dikenal sebagai Kesultanan Kadriah.
Pusat pemerintahan kesultanan ditandai dengan keberadaan Istana Kadariah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Kedua bangunan bersejarah tersebut berada di kawasan Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur.
Keberadaan istana dan masjid tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Pontianak, baik dalam perkembangan pemerintahan kesultanan maupun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakatnya.
Berkembang Menjadi Kota Perdagangan dan Pelabuhan
Letak Pontianak di kawasan pertemuan sungai menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan kota tersebut. Jalur sungai berperan sebagai sarana transportasi dan penghubung aktivitas masyarakat serta perdagangan.
Pemerintah Kota Pontianak mencatat, di bawah kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Pontianak berkembang menjadi kota perdagangan dan pelabuhan. Perkembangan tersebut turut membentuk karakter Pontianak sebagai kota yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sungai.
Dalam perjalanan sejarahnya, Pontianak juga mengalami pengaruh kolonial Belanda. Catatan sejarah pemerintah daerah menyebutkan, pada 1778, perwakilan Belanda dari Batavia mulai hadir di Pontianak. Pada 5 Juli 1779, perusahaan dagang Belanda membuat perjanjian politik dengan Sultan Pontianak terkait kawasan Tanah Seribu, yang kemudian menjadi lokasi aktivitas pemerintahan kolonial.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari perubahan politik dan tata pemerintahan Pontianak dari masa kesultanan hingga periode pemerintahan berikutnya.
Pontianak dan Identitas Kota Khatulistiwa
Selain memiliki sejarah sebagai pusat Kesultanan Pontianak, kota ini juga dikenal dengan julukan Kota Khatulistiwa karena dilintasi garis ekuator.
Letak geografis tersebut menjadi salah satu identitas yang melekat pada Pontianak. Sungai Kapuas dan Sungai Landak juga memiliki peran penting dalam membentuk bentang alam serta perkembangan kehidupan masyarakat setempat.
Hingga kini, kawasan bersejarah seperti Istana Kadariah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie menjadi pengingat perjalanan panjang kota yang tumbuh dari kawasan permukiman di tepian sungai.
Hari Jadi ke-255, Momentum Merawat Sejarah
Pada peringatan hari jadi ke-255 tahun ini, Pemerintah Kota Pontianak mengusung tema “Tangguh Bersahabat” dengan slogan “Kite Jage Kite.”
Tema tersebut menjadi bagian dari peringatan perjalanan Pontianak sejak didirikan pada 1771. Momentum hari jadi juga dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan sejarah, merawat keberagaman, dan memperkuat kebersamaan masyarakat dalam pembangunan kota.
Dari kawasan pertemuan tiga sungai hingga berkembang menjadi ibu kota Kalimantan Barat, sejarah Pontianak memperlihatkan perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh bersama jalur sungai, perdagangan, dan tradisi masyarakatnya.(*)


