Iklan

Latest Post

Kamis, September 17, 2026, 21:13 WIB
Last Updated 2026-09-29T18:14:15Z
DaerahHits EkonomiTrending

Ditinggalkan Sejak 1980-an, Lahan Pertanian Pengabuan PALI Kini Produktif

Lahan tersebut ditinggalkan petani karena adanya anggapan di tengah masyarakat bahwa aktivitas Pertamina di wilayah tersebut berdampak terhadap kondisi tanah. | Foto : HPC

PALI, HPC - Lahan pertanian di Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, kini kembali produktif. Sawah yang mampu menghasilkan puluhan ton gabah itu sebelumnya sempat terbengkalai sejak 1980-an.


Lahan tersebut ditinggalkan petani karena adanya anggapan di tengah masyarakat bahwa aktivitas Pertamina di wilayah tersebut berdampak terhadap kondisi tanah.


Persepsi itu perlahan berubah sejak 2014. Sejumlah petani yang dimotori Sarbeni mulai kembali menggarap lahan yang lama tidak produktif dengan pendampingan Pertamina EP Adera Field.


Sarbeni mengatakan, tahap awal dilakukan dengan membuka lahan sekitar dua hektare sebagai demplot. Lahan tersebut kemudian ditanami padi.


Hasilnya, tanaman padi dapat tumbuh dan menghasilkan panen meski produksinya saat itu belum maksimal.


"Dahulu lahan ini memang lahan pertanian, tetapi sejak tahun 1980-an ditinggalkan masyarakat karena menganggap kandungan tanah rusak akibat kehadiran Pertamina yang beroperasi di desa kami," kata Sarbeni saat kegiatan panen bersama padi varietas Srai, Kamis (17/9/2026).


Sarbeni yang kini menyandang gelar Lokal Hero Kelompok Tani Barokah itu kemudian bersama sejumlah petani kembali mengembangkan lahan tersebut.


"Dengan penuh keyakinan, kami buka lahan seluas lebih kurang dua hektare dengan pendampingan Pertamina, ditanami padi dan hasilnya tumbuh subur serta bisa panen," ujarnya.


Namun, pada tahun kedua, tanaman padi mereka menghadapi serangan hama dan penyakit. Salah satunya karena belum banyak tanaman padi lain di sekitar lokasi demplot.


"Tahun kedua tanaman tumbuh subur, namun saat mendekati panen diserang walang sangit dan burung pipit. Kemudian kami belajar ke Sumatera Barat dan mendapatkan ilmu Jarwo atau jajar legowo," jelas Sarbeni.


Ilmu yang diperoleh dari Sumatera Barat kemudian diterapkan di lahan pertanian tersebut. Hasilnya, produktivitas tanaman padi mulai menunjukkan perkembangan.


"Ilmu dari Sumbar kemudian kami praktikkan dan alhamdulillah bisa menghasilkan padi yang cukup bagus," sambungnya.


Dapat Program Cetak Sawah


Upaya menghidupkan kembali lahan pertanian tersebut terus berlanjut. Pada 2016, wilayah itu mendapat program cetak sawah dengan luasan lebih dari 1.000 hektare.


"Sejak tahun 2016 lahan ini dibuka melalui program cetak sawah sehingga lahan yang tidur lama bisa produktif ditambah pendampingan dan bantuan dari Pertamina Adera," kata Sarbeni.


Kini, lahan yang sebelumnya lama tidak digarap tersebut telah menjadi salah satu kawasan pertanian yang kembali produktif. Sarbeni berharap produksi padi dapat terus ditingkatkan sehingga berdampak pada kesejahteraan anggota kelompok tani.


Meski demikian, dia mengatakan masih ada sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi, terutama terkait sarana dan prasarana pengairan.


"Sampai saat ini masih banyak kekurangan sarana prasarana dalam peningkatan hasil panen, terutama irigasi yang butuh dibuatkan sumur bor. Karena pengairan lahan ini mengandalkan air hujan," ujarnya.


"Untuk itu kami masih butuh pendampingan serta bantuan baik dari Pertamina maupun pemerintah," sambung Sarbeni.


Pertamina Dorong Kemandirian Petani


Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional I, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Pertamina EP memiliki sejumlah program pemberdayaan masyarakat, salah satunya Permata atau Pertanian Mandiri Desa Tangguh.


Menurut Iwan, program tersebut turut mendorong peningkatan produktivitas, pengetahuan, serta partisipasi masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian.


"Terbukti telah terjadi pertumbuhan dari produktivitas, maupun pengetahuan dan banyaknya partisipasi yang semakin membaik," kata Iwan.


Dia berharap program tersebut dapat terus mendorong masyarakat menuju kemandirian.


"Harapannya bisa mencapai apa yang direncanakan, yaitu menuju kemandirian, karena indikator keberhasilan PPM atau CID adalah kemandirian," pungkasnya.(*)

Terkini